Monthly Archives: Januari 2011

PUPUK DAHSYAT UNTUK AGRIBISNIS

Standar
urine kelinci siap jual

urine kelinci siap jual

Pupuk adalah kebutuhan mendasar bagi kelangsungan kegiatan agribisnis. Pupuk bisa jadi mahal bisa pula menjadi barang murah, bahkan mubadzir. Semua tergantung persepsi dan sikap kita terhadapnya. Bagi peternak yang tak memiliki kebutuhan akan tanaman bisa jadi sampah yang tiada bernilai. Hal ini tentu berbeda dengan para pengelola agribisnis yang setiapkali musim tanam selalu melihat pupuk sebagai barang berharga, saking berharganya bisa pula menjadi sesuatu yang ekseklusif.

Ada banyak jenis pupuk, tetapi dari sekian jenis pupuk kandang, pupuk kelinci yang terdiri dari tahi (feses) dan kencing (urine) dipadukan, ia akan menjadi pupuk handal untuk menghasilkan produksi tanaman.

Satu ekor kelinci yang berusia dua bulan lebih, atau yang beratnya sudah mencapai 1 Kg akan menghasilkan 28,0 g kotoran lunak per hari dan mengandung 3 g protein serta 0,35 g nitrogen dari bakteri atau setara 1,3 g protein. (Spreaadburi dan Yono C. Rahardjo: 1978)

Di dalam kandungan pupuk tersebut, Majalah Domestik Rabbit di Amerika Serikat tahun 1990 silam menyebutkan terdapat kandungan 2,20% Nitrogen, 87% Fosfor , 2,30% Potassium, 36 Sulfur%, 1,26% Kalsium, 40% Magnesium.

Hasil riset tiga peneliti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak Bogor), Sajimin, Yono C. Rahardjo dan Nurhayati D. Purwantari (2005) menyimpulkan, pupuk kandang dari kotoran kelinci berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan maupun produksi rumput P.maximum dan leguminosa S.hamata setelah 6 kali panen (umur 258 hari). Sedangkan dengan penambahan probiotik pada pupuk kelinci interaksinya telah memberikan pengaruh nyata pada tanaman pakan dan meningkatkan produksi hijauan sebesar 34,8-38,0%.

Menurut penelitian tersebut, “komposisi bahan organik C:N rasio, unsur makro dan mikro lebih tinggi pada pupuk kelinci yang ditambahkan probiotik pada waktu proses dekomposisi. Penggunaan probiotik pada pupuk kelinci untuk tanaman sayuran kentang dan kubis juga berdampak positif di mana dengan perlakukantrichoderma rata-rata produksinya lebih tinggi 16,3% (kentang) dan 5% (kubis) di banding tanaman kontrol.”

Sedangkan pada tabel berikut ini menyebutkan kandungan unsur-unsur dalam feses dan urin kelinci berbanding ternak lainnya sebagai berikut.

Jenis ternak Unsur Hara
N (%) P (%) K (%) H2O (%)
Kuda (padat) 0,55 0,30 0,40 75
Kerbau (padat) 0,60 0,30 0,34 85
Sapi (padat) 0,40 0,20 0,10 85
Domba (padat) 0,75 0,50 0,45 60
Babi (padat) 0,90 0,35 0,40 80
Ayam 0,40 0,10 0,45 97
Kelinci muda* 1,6-2,0 0,43-1,3 0,4-1,0 44,7-32,5
Kelinci dewasa** 2,72 1,1 0,5 55,3

Sumber: Trubus (1996). Klaus (1985 dalam Kartadisastra (2001); Baririh, N.R, Wafiatiningsih, I.Sulistyo, R.A. Saptati BPPT Kaltim 2005)

Djiman Santoso, jutawan kelinci dari Sleman Yogyakarta sebagaimana ditulis di Tabloid Agrina 29 Nopember 2006 lalu mengatakan, “harga pupuk kotoran kelinci mencapai Rp7.500/kg, sedangkan air kencingnya Rp5.000/liter. 100 ekor kelinci menghasilkan 25 kg kotoran basah per hari.”

Mereka yang memahami manfaat pupuk kelinci wajar jika kemudian memilihnya sebagai pendorong produktivitas. Mu’tazim Fakkih, peternak kelinci dan penggerak pertanian Serikat Islam di Klaten misalnya, sudah bertahun-tahun memanfaatkan pupuk kelinci.

Sebagaimana diulas dalam Tabloid Kontan 29 April 2009 lalu, Tazim membuktikan pupuk dan urin kelinci membuat tanaman sayuran dan buah lebih netral dan kesegarannya lebih tahan lama.  Sayangnya, sekalipun ia memiliki ratusan ekor kelinci, pasokan untuk kegiatan agribisnisnya masih kurang.

Di Negara-negara yang sudah menerapkan proyek agribisnis atau agroindustri seperti Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Spanyol dan lain-lain pupuk kelinci telah memainkan peranan sebagai bagian terpenting menghasilkan tanaman yang baik, termasuk sebagai cara menghasilkan uang paling hebat dalam pasar pertanian modern.

Saking potensialnya, pupuk kelinci justru mendapatkan perhatian yang serius sehingga dalam mendesain kandang harus diperhatikan. Tujuan membuat desain kandang selain untuk menghindari kemubadziran feses dan urin juga untuk tujuan memudahkan pembersihan keduanya. Selamat mencoba.

Faiz Manshur : Penulis buku Kelinci ( pemeliharaan secara ilmiah tepat dan terpadu ) dan buku Ternak Uang ( panduan bisnis, marketing dan pemberdayaan ternak kelinci )

Note : Kebun Kelinci Madiun juga menyediakan Pupuk Organik dari Kotoran Kelinci ;

Urine Mentah : Rp 2.500 / liter

Urine Siap Pakai ( Pupuk Organik Cair ): Rp 5.000 / liter ( sudah di fermentasikan dan di campur dengan Bakteri Positif dari Prestasi Indonesia yang hasilnya telah teruji luar biasa )

Feces Kelinci : Rp 500 / kg

Kontak Pemesanan : 0856 4956 1319

Terbuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi agen dengan harga lebih murah.

KONSENTRAT KHUSUS KELINCI

Standar

Untuk memenuhi kebutuhan pakan kelinci sehari-hari selain rumput,sayuran maupun daun-daunan,konsentrat sangat diperlukan karena selain sebagai pakan tambahan konsentrat yang terdiri dari berbagai bahan-bahan baku berkualitas juga berfungsi sebagai penguat, penambah nafsu makan, pengenyang, menambah daya tahan tubuh dari berbagai penyakit, dan berbagai manfaat lainnya.

Konsentrat khusus kelinci sebaiknya dibuat dalam bentuk curah ( BUKAN PELLET ) karena kelinci tidak memiliki gigi geraham sebagai pengunyah,jadi ketika kelinci diberi pakan berbentuk pellet kelinci harus mencacah pellet terlebih dahulu kemudian setelah hancur baru memakannya.
Untuk saat ini, produsen yang memproduksi konsentrat khusus kelinci berbentuk curah adalah CV.MULTIGUNA KLATEN. Konsentrat khusus kelinci tersebut adalah PROTEFEED PF 19. Konsentrat PROTEFEED PF 19 adalah ransum bergizi lengkap dan kandungan protein tinggi, disusun dari bahan-bahan baku berkualitas, dilengkapi dengan vitamin, mineral, dan bahan additive  antara lain :

- Bekatul,
– Wheat Brand,
– Bungkil Sawit,
– Gaplek,

- Mutiara,
– Onggok,
– Calsit,

- Zeolit,

- Garam,

- Tetes tebu,

- Dan lain-lain.

Komposisi PF 19 :
– Bahan Kering (BK) : minimal 86 %
– Protein Kasar (PK) : minimal 14,00 %
– Serat Kasar (SK) : minimal 10,80 %
– Kecernaan (TDN) : minimal 70 %
– Calcium (Ca) : 0,47 %
– Phosphor (P) : 0,34 %
– Vitamin A : 2,3 KIU/kg

konsentrat kelinci PF19

konsentrat kelinci PF19

Petunjuk Pemakaian

 

-Sebaiknya diberikan langsung ( kering ) tanpa menggunakan campuran air agar kelinci mengeluarkan air liur yang berfungsi untuk memperlancar proses pencernaan.

-Pemberian cukup 2 x sehari, pagi hari 50 gram dan malam hari 100 gram ditambah minimal 2 jenis rumput secukupnya ( misal : kangkung dan daun papaya ) agar kelinci bisa memilih makanan kesukaannya.

Saran Penyimpanan
Keawetan PF19 juga ditunjang oleh cara penyimpanan barangnya. Penyimpanan yang baik adalah diruangan yg berudara kering dan terkena cukup sinar matahari ( tidak langsung ). Dan hindarkan kontak langsung dengan lantai . Sebaiknya alas menggunakan kayu maupun benda lain yang fungsinya sama seperti kayu.

Penyimpanan PF19 yang akan segera diberikan pada kelinci sebaiknya di dalam ember yang tertutup rapat sedangkan jika konsentratnya belum akan diberikan sebaiknya dibiarkan saja dalam karung.

Jangan dijemur di bawah terik matahari langsung karena tetes tebu  yang terkandung dalam konsentrat PF 19 apabila dipanaskan akan menguap kemudian  vitamin dan proteinnya akan hilang.

penyimpanan konsentrat dalam ember plastik

penyimpanan konsentrat dalam ember plastik

Dimana Mendapatkannya ?

 

Bagi peternak maupun hobbi kelinci yang ingin mendapatkan konsentrat PF 19 bisa menghubungi Kebun Kelinci Madiun yang saat ini menjadi agen tunggal untuk wilayah madiun dan sekitarnya.

- Harganya murah dan lebih ekonomis cuma Rp.3000 / kg. Tidak lebih mahal dari harga
pakan yang ada di Supermarket maupun Pet Shop.
– Harga tersebut tidak termasuk ongkos kirim.
– Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kenaikan harga dari produsen.
– Info lebih lanjut bisa menghubungi 0856 4956 1319 ( via sms maupun telpon ).

KISAH SUKSES PETERNAK KELINCI HIAS

Standar

Budidaya kelinci memang menggiurkan. Apalagi kelinci hias,harganya bisa 10 kali lipat harga kelinci konsumsi.Urine dan fesesnya pun bisa dijadikan fulus. Wiyono

 

Apabila hobi anda berwisata kuliner pasti sependapat bahwa restoran dengan menu daging kelinci kian menjamur. Teksturnya yang lembut dan gurih makin digemari karena kandungan  kolesterol daging kelinci jauh lebih rendah dibandingkan daging sapi atau kambing sehingga lebih sehat jika di konsumsi. Sejatinya budidaya kelinci telah lama pula dilakukan orang. Sebab keuntungan beternak kelinci lumayan menggiurkan. Binatang ini sudah siap kawin ketika memasuki usia 6 bulan dan masa buntingnya relative pendek, yakni 29 – 31 hari. Sekali reproduksi kelinci beranak 4 – 12 ekor anak, artinya tidak butuh waktu lama untuk mencapai titik impas usaha.

 

Namun tidak hanya itu, seiring berkembangnya kelompok masyarakat penyuka binatang hias, hewan imut-imut bertubuh mungil dengan bulunya yang lembut itu telah masuk hitungan sebagai incaran para pehobi. Maka dari sisi nilai ekonomi jelas semakin menguntungkan.

 

Rudy Hustamin yang telah lebih dari 7 tahun menggeluti usaha ternak kelinci, khususnya kelinci hias mengatakan hal serupa, “Lebih menguntungkan kelinci hias karena bermain di dunia hobi. Kalau berhubungan dengan hobi orang tidak pernah melihat uang,berapa saja berani. Jenis New Zeland untuk konsumsi dilepas di pasaran dengan harga Rp 10.000. Sedangkan kelinci hias jenis Hotot dijual Rp 100.000, “ ujarnya.

 

 

 

Lebih rinci, kelinci hias mulai memiliki nilai jual setelah umur 2,5 bulan. Dalam setahun seekor indukan mengalami 3 kali masa kawin atau 3 kali bunting. Taruh kata, rata-rata sekali beranak melahirkan 5 ekor, berarti dalam setahun menghasilkan 15 anakan. Dengan harga jual Rp 75.000 – Rp 100.000, maka setahun per ekor bisa menghasilkan pendapatan hingga Rp 1.500.000 dengan kelangsungan hidup mencapai umur 4 tahun. Indukan yang sudah tidak produktif tersebut masih memiliki nilai ekonomis, yakni sebagai hewan potong di resto atau warung sate kelinci.

 

Memang benar, untuk memenuhi selera konsumen Rudy tidak hanya mengandalkan 1 jenis kelinci local, melainkan juga mendatangkan beberapa jenis kelinci hias dari luar negeri, seperti Lop, Angora, Rex, Hotot, Dutch, Dwarf, Lion, maupun Flamish Giant. Perbedaanya, apabila kelinci local secara fisik bagian mulut dan telinganya lebih panjang , tubuhnya relatif lebih besar dengan bobotnya 2-3 kg dan biasanya terdapat pola-pola di atas bulu, kelinci jenis impor lebih variatif. Ada kelinci berjenis kuping turun, kuping kecil dan sebagainya. Kelinci jenis hotot yang paling besar bobot tubuhnya hanya 1,5 kg. Tetapi terdapat pula kelinci impor yakni Flamish Giant, per ekornya bisa mencapai 10 kg.

 

Untuk segi pemeliharaan, secara umum antara kelinci hias dengan kelinci local yang sebagian besar hanya untuk keperluan konsumsi, tidak berbeda jauh. “ Tetapi karena asalnya dari luar negeri maka perlu sedikit adaptasi. Kelinci hias lebih gampang mati , kelinci local tidak,”  Rudy menjelaskan. Yang paling pokok, setiap hari kebersihan kandang harus dijaga. Sebab kalau tidak , binatang-binatang ini rentan penyakit, terutama diare, scabies ( gudig/korengen ) dan radang paru-paru.

 

Sementara itu mengenai biaya operasional khususnya pakan kelinci hias, peternak tidak boleh hanya bergantung pada rumput atau kangkung saja melainkan harus disertai makanan tambahan. Tapi jangan khawatir, dalam hitungan akhir jatuhnya biaya malah lebih murah, Rudy mengaku biasa memberikan pellet buatan dari bahan dedak, bungkil kedelai dan ampas kelapa. Dalam sebulan ia bahkan memproduksi sendiri tidak kurang dari 20 ton pellet untuk dipasarkan dengan berbagai nama merk.” Kita punya induk sekitar 1.300 ekorhanya membutuhkan sekitar 6 karung rumput setiap hari, ditambah pakan konsentrat 70 kg. Efisien sekali, kalau hanya pakai rumput sehari harus 1 truk,” akunya.

 

Di Bandung  Jawa Barat, Rudy telah memiliki kandang berbaterai berisi sekitar 1.300-2.000 indukan, dan mempekerjakan kurang lebih 50 orang . Setiap minggunya ia biasa mengirim kelinci hias ke seluruh pet shop di Jakarta dan sekitarnya sebanyak 600-700 ekor. Namun bukan hanya kelinci hias atau penjualan pellet saja, Rudy bertutur terdapat beberapa penghasilan tambahan lain pula. Pasalnya baik urine ( air kencing ) atau feses ( kotoran ) kelinci memiliki nilai jual tinggi. Urine yang di tamping lalu dikemas dalam botol dan diberi label, dijual sebagai pupuk organic Rp 10.000 / liter. Dalam sebulan paling tidak ia bisa mengumpulkan 1.500 botol. Sementara itu feses dicampur dengan abu sekam sisa bahan bakar pabrik tahu miliknya, di Jakarta laku Rp 6.000 / sak sebagai pupuk tanaman.” Setiap minggu kita bisa kirim sekitar 800 karung. Lebih gede sampingannya,”imbuhnya sambil tersenyum.

 

 

 

Menurutnya, beberapa waktu terakhir prospek cerah kelinci hias semakin bertambah setelah merebak kasus flu burung. Sedikit demi sedikit binatang unggas mulai ditinggalkan, kemudian orang ganti melirik kelinci. Maka sebagai antisipasi akan permintaan pasokan yang terus meningkat ia mengembangkan plasma di daerah Ciwidey dan menyiapkan sebuah lokasi berkapasitas lebih besar di Cipanas. Ke depan akan ramai sampai ke luar kota. Kita sudah masuk sampai ke Samarinda dan Papua,” ujar pengusaha yang kini sudah merambah budidaya hamster, sapi perah, pabrik tahu, hingga jual-beli perusahaaan tersebut.

 

Bisnis penangkaran hamster pria kelahiran Jambi 1972 ini pun boleh dibilang berhasil. Tiap minggu Rudy dapat menjual 2.000 – 3.000 ekor binatang pengerat mirip tikus tersebut ke seluruh Jabodetabek, ditambah ekspor sebulan sekali sebanyak 3.000 ekor ke Arab Saudi. Bersamaan itu juga ia mengirim kelinci hias sekitar 300 – 400 ekor tiap 1 atau 2 bulan sekali.

 

Menyinggung pengembangan budidaya kelinci hias dengan sistem plasma, Rudy berujar, jikalau hal itu relatif lebih mudah dijalankan, dikarenakan beternak kelinci lebih bagus apabila tidak dipelihara dalam satu kelompok berjumlah besar. Alasan utama pengelolaan akan lebih mudah dilakukan, seperti merawat kebersihan kandang dan mengawinkan indukan setiap hari.

 

“Saya punya planning di masa depan akan mengajak kerjasama pemerintah, kalau nanti saya sudah siap, saya akan menyiapkan bibit yang bagus sekitar 5.000 ekor untuk proyek masyarakat di daerah tertinggal. Kelinci itu berkembang biaknya cepat, sehingga minimal membantu penyediaan protein hewani,” katanya seraya mengaku. Pada awalnya ia pun hanya berfikir untuk berbisnis kelinci potong, bukan untuk binatang hias.”Karena di Jakarta ternyata lebih respek untuk hias,” imbuhnya beralasan.

 

Sejarahnya, selepas terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998, mantan karyawan di perusahaan IT tersebut mulai mencari kesempatan membuka usaha sendiri. Setelah sekian waktu menimbang-nimbang, tahun 2000 ia tertarik pada budidaya kelinci yang menurutnya waktu itu belum banyak pesaing. Saat itu dia mempercayakan modal Rp 12 juta kepada salah seorang kenalan untuk mengelola usaha tersebut di Cianjur, Jawa Barat. Tetapi saying tidak berjalan mulus, hanya berjalan 3 bulan akhirnya berantakan.

 

Tidak patah semangat, tahun 2001 ia mulai usaha kelinci hias tersebut di daerah Bandung dan tidak lagi mengandalkan orang lain, melainkan ditangani sendiri. Rudy juga gigih dalam hal pemasaran, seminggu sekali atau tiap ada kesempatan ia sambangi pet shop di Jakarta satu per satu, sehingga akhirnya membuahkan hasil. Meskipun pada awalnya banyak yang kurang yakin kelinci bisa hidup dengan hanya diberi pellet, namun setelah terbukti, seterusnya pemasaran pun berjalan lancar. Bahkan khusus untuk pakan, dalam  sebulan ia bisa menjual sampai 20 ton dengan harga Rp 4.000- Rp 6.000 / kg.

 

“Saya mulai benar-benar dari nol.Dari semula berupa kandang kayu, sekarang sudah punya kandang kawat. Syukurlah, sekarang kita juga akan segera memperluas usaha di Cipanas, lahan sudah disediakan . Rencananya berkapasitas muat 5000 ekor indukan,” tuturnya. Omsetnya,sebulan jelas mencapai ratusan juta. Kurang percaya ? Silahkan dibuktikan sendiri !

 

( Sumber : Majalah Pengusaha Bulan Mei 2008 )

SUKSES DARI KELINCI

Standar

Asep dan Budidaya Kelinci di Lembang

oleh: LIS DHANIATI

Asep Sutisna bersama keluarga

Asep Sutisna bersama keluarga

Nama Asep Sutisna relatif populer di kalangan peternak dan penggemar kelinci di Jawa Barat, bahkan Indonesia. Belajar tak kenal lelah membuat ia paham seluk-beluk beternak kelinci hias maupun pedaging. Melalui kelinci, ia ikut mengangkat derajat ekonomi warga Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Kios kelinci begitu mudah dijumpai dalam perjalanan Bandung-Lembang. Tak hanya kelinci hidup, di jalur ini juga mudah ditemukan warung sate kelinci. Seekor kelinci hias dijajakan dengan harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Kelinci telah mendukung perekonomian ratusan peternak, banyak pedagang dan pekerja yang terlibat. Bagi mereka, kelinci tidak sekadar lucu, tetapi juga mampu menopang kehidupan rumah tangga.

Sebagai peternak sekaligus pembudidaya indukan kelinci, Asep Sutisna (45) kerap diundang sebagai narasumber di berbagai seminar. Dia juga menjadi anggota World Rabbit Science Association. Peternakan miliknya pun sering menjadi tempat belajar para pelajar, mahasiswa, serta siapa pun yang tertarik beternak kelinci, dan itu gratis. Tak heran jika ia berkawan akrab dengan banyak akademisi dari fakultas peternakan berbagai perguruan tinggi.

Sebagai peternak, Asep memiliki 100 peternak binaan. Dia tergolong sesepuh dalam kelompok peternak kelinci di kawasan Lembang yang beranggotakan sekitar 300 orang. “Potensi usaha ternak kelinci masih sangat bagus. Sampai sekarang pun peternak Lembang belum bisa memenuhi permintaan pasar, baik kelinci hias maupun pedaging,” kata Asep.

Padahal, lanjut Asep, sedikitnya ada 130.000 ekor indukan kelinci di Lembang. Satu induk bisa melahirkan hingga 30 kali dengan jumlah anak rata-rata 5 ekor pada setiap kelahiran. “Sebagian kelinci malah bisa melahirkan sampai sembilan ekor,” tuturnya.

Namun, sukses budidaya kelinci di Lembang itu tidak terjadi begitu saja. “Kalau sekadar memelihara kelinci, itu sudah lama dilakukan orang,” ucap pria yang sulit mengingat kapan pastinya budidaya kelinci dimulai di Lembang.

Bukan pionir

Asep Sutisna bersama gurunya,Mamur Suriaatmadja

Asep Sutisna bersama gurunya,Mamur Suriaatmadja

Asep mengaku dia bukan pionir pemelihara kelinci di Lembang. Tahun 1990-an sebagian warga Desa Gudang Kahuripan sudah memelihara kelinci sebagai kegemaran. Ketika itu Asep justru masih bekerja sebagai juru foto. Bahkan, saat itu, lulusan sekolah teknik menengah jurusan listrik ini masih memiliki studio foto.

Sampai suatu hari anak laki-lakinya, Taufik Soleh, minta dibelikan kelinci. “Waktu itu dia masih anak-anak. Dia pengin punya kelinci karena melihat teman-temannya memelihara kelinci,” cerita Asep.

Dia lalu membelikan anaknya lima kelinci yang kemudian dipelihara sambil lalu. Namun, ketika Taufik bosan terhadap kelinci-kelinci itu, Asep menjual lima ekor kelinci tersebut dengan cara memajangnya di jalur Bandung-Lembang. “Ternyata laku. Jadi saya beli kelinci lagi untuk dijual, eh ternyata laku lagi,” ujarnya.

Meski demikian, berjualan kelinci hanyalah usaha sampingan yang tak dijalani Asep dengan serius. Dia masih menekuni studio fotonya. Sampai suatu hari telepon dari sang istri menjadi titik baliknya.

“Saat itu saya sedang di studio, istri saya telepon minta saya cepat pulang. Katanya, banyak yang mau membeli kelinci,” tutur Asep.

Peristiwa itu hampir bersamaan dengan krisis moneter 1997-1998 yang membuat harga barang-barang naik drastis, termasuk film untuk keperluan studio fotonya. Asep pun memutuskan serius beternak kelinci.

Namun, dia harus menghadapi kenyataan pahit ketika banyak kelinci peliharaannya terserang scabies. Sebagai peternak pemula, Asep belum tahu cara mengatasi penyakit itu hingga banyak kelincinya yang mati. Itu sempat membuat Asep berpikir untuk banting setir, pindah usaha sebagai peternak sapi.

Meskipun tak punya sapi, Asep nekat ikut pelatihan. “Mentornya warga negara Jepang. Di pelatihan itu, dia malah menyarankan saya tetap menekuni ternak kelinci,” cerita Asep.

Ia pun belajar banyak dari orang Jepang tersebut. Salah satu hasilnya, ia bisa mengatasi masalah penyakit scabies pada kelinci. Selain ikut berbagai pelatihan, ia juga belajar memelihara dan membudidayakan kelinci dari mereka yang dinilainya lebih berpengalaman. “Saat itu buku referensi tentang budidaya kelinci masih jarang,” ujar ayah dua anak itu.

Sedikit demi sedikit Asep mampu menguasai seluk-beluk tentang kelinci. “Kalau mau berhasil jadi peternak, kita harus memahami berbagai hal yang terkait, dari hulu sampai hilir. Jadi kita tidak tergantung dari pihak lain. Banyak peternak ayam yang gulung tikar karena tidak menerapkan konsep itu,” katanya.

Menyilangkan

Tak puas hanya membudidayakan jenis kelinci yang biasa dipelihara warga setempat, Asep lalu mendatangkan indukan kelinci dari luar negeri. Dia menyilangkan indukan kelinci impor itu dengan jenis kelinci yang ada.

Kini, ada berbagai jenis kelinci yang diternakkan di Lembang, antara lain American rex, American fuzzy lop, Lop holland, English angora, Dutch, Himalayan, Netherland Dwarf, dan Lion.

Selayaknya dokter hewan, ia pernah meneliti anatomi kelinci dengan membedah bagian pencernaan. Asep juga mempelajari berbagai hal menyangkut pakan kelinci.

“Dulu, saya banyak menghabiskan waktu di kandang untuk mengamati kelinci. Sering saya baru keluar kandang pukul 02.00 atau 04.00. Istri saya sampai bilang, tidur saja di kandang,” cerita Asep yang kini omzetnya berkisar Rp 10 juta per minggu ini.

Kerja kerasnya tidak sia-sia. Ia juga bisa memproduksi dan memasarkan pakan berupa pelet kering. Ia membuat produk olahan daging kelinci berupa nugget, sosis, dan burger. “Produk olahan belum banyak kita buat karena daging kelinci sangat terbatas. Peternak suka memelihara kelinci hias yang lebih menguntungkan,” katanya.

Untuk sate digunakan kelinci hias apkiran. Bahkan, pedagang sate kadang mendatangkan kelinci pedaging dari luar Lembang. “Harga daging hanya bisa ditekan jika peternak fokus pada penjualan kulit kelinci. Harga satu lembar kulit kelinci jenis American rex, misalnya, berkisar 8-16 dollar AS. Itu pun permintaannya tak bisa dipenuhi peternak,” ujar Asep.

Masih ada yang ingin diwujudkan Asep, yakni mendirikan usaha kelinci terpadu, mulai dari peternakan, pembibitan, industri produk olahan, pengolahan kulit, restoran, hingga wisata kelinci.

“Kalau cita-cita saya tercapai, pasti ribuan tenaga kerja bisa terserap ya,” ucapnya tentang cita-cita yang tentunya membutuhkan investasi miliaran rupiah itu.

Sumber: Kompas

BUDIDAYA TERNAK KELINCI

Standar
peternakan kelinci di cina

peternakan kelinci di cina

1. SEJARAH SINGKAT

Ternak ini semula hewan liar yang sulit dijinakkan. Kelinci dijinakkan sejak 2000 tahun silam dengan tujuan keindahan, bahan pangan dan sebagai hewan percobaan. Hampir setiap negara di dunia memiliki ternak kelinci karena kelinci mempunyai daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi sehingga mampu hidup di hampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi, Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan yang berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci, Jawa disebut trewelu dan sebagainya.

2. SENTRA PETERNAKAN

Di Indonesia masih terbatas daerah tertentu dan belum menjadi sentra produksi/dengan kata lain pemeliharaan masih tradisional.( Saat ini yang menjadi sentra peternakan kelinci ada di Kota Bandung, Magelang, Malang, Sleman – pen)

3. JENIS

Menurut sistem Binomial, bangsa kelinci diklasifikasikan sebagai berikut : Ordo : Lagomorpha Famili : Leporidae Sub famili : Leporine Genus : Lepus, Orictolagus Spesies : Lepus spp., Orictolagus spp. Jenis yang umum diternakkan adalah American Chinchilla, Angora, Belgian, Californian, Dutch, English Spot, Flemish Giant, Havana, Himalayan, New Zealand Red, White dan Black, Rex Amerika. Kelinci lokal yang ada sebenarnya berasal dari dari Eropa yang telah bercampur dengan jenis lain hingga sulit dikenali lagi. Jenis New Zealand White dan Californian sangat baik untuk produksi daging, sedangkan Angora baik untuk bulu.

4. MANFAAT

Manfaat yang diambil dari kelinci adalah bulu dan daging yang sampai saat ini mulai laku keras di pasaran. Selain itu hasil ikutan masih dapat dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan dan pakan ternak.

5. PERSYARATAN LOKASI

Dekat sumber air, jauh dari tempat kediaman, bebas gangguan asap, bau-bauan, suara bising dan terlindung dari predator.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Yang perlu diperhatikan dalam usaha ternak kelinci adalah persiapan lokasi yang sesuai, pembuatan kandang, penyediaan bibit dan penyediaan pakan.

1. Penyiapan Sarana dan Perlengkapan

Fungsi kandang sebagai tempat berkembang biak dengan suhu ideal 21° C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam dan melindungi ternak dari predator. Menurut kegunaan, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk induk/kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya, kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih. Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 cm. Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:

1. Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda.

2. Kandang sistem ranch ; dilengkapi dengan halaman pengumbaran.

3. Kandang battery; mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid). Perlengkapan kandang yang diperlukan adalah tempat pakan dan minum yang tahan pecah dan mudah dibersihkan.

2. Pembibitan

Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut. Untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara.

1. Pemilihan bibit dan calon induk

Bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak.

2. Perawatan Bibit dan calon induk

Perawatan bibit menentukan kualitas induk yang baik pula, oleh karena itu perawatan utama yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup, pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta mencegah kandang dari gangguan luar.

3. Sistem Pemuliabiakan

Untuk mendapat keturunan yang lebih baik dan mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu:

a. In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.

b. Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul.

c. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat bangsa/jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit.

4. Reproduksi dan Perkawinan

Kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan (betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatan terganggu dan mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan.

5. Proses Kelahiran

Setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci yang sering terjadi malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.

peternakan kelinci di bandung

peternakan kelinci di bandung

3. Pemeliharaan

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

Tempat pemeliharaan diusahakan selalu kering agar tidak jadi sarang penyakit. Tempat yang lembab dan basah menyebabkan kelinci mudah pilek dan terserang penyakit kulit.

2. Pengontrolan

Penyakit Kelinci yang terserang penyakit umumnya punya gejala lesu, nafsu makan turun, suhu badan naik dan mata sayu. Bila kelinci menunjukkan hal ini segera dikarantinakan dan benda pencemar juga segera disingkirkan untuk mencegah wabah penyakit.

3. Perawatan Ternak

Penyapihan anak kelinci dilakukan setelah umur 7-8 minggu. Anak sapihan ditempatkan kandang tersendiri dengan isi 2-3 ekor/kandang dan disediakan pakan yang cukup dan berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu untuk mencegah dewasa yang terlalu dini. Pengebirian dapat dilakukan saat menjelang dewasa. Umumnya dilakukan pada kelinci jantan dengan membuang testisnya.

4. Pemberian Pakan

Jenis pakan yang diberikan meliputi hijauan meliputi rumput lapangan, rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi dan daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang hijau, padi, kacang tanah, sorghum, dedak dan bungkil-bungkilan. Untuk memenuhi pakan ini perlu pakan tambahn berupa konsentrat yang dapat dibeli di toko pakan ternak. Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput sedikit/secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Pemberian air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.

5. Pemeliharaan Kandang

Lantai/alas kandang, tempat pakan dan minum, sisa pakan dan kotoran kelinci setiap hari harus dibersihkan untuk menghindari timbulnya penyakit. Sinar matahari pagi harus masuk ke kandang untuk membunuh bibit penyakit. Dinding kandang dicat dengan kapur/ter. Kandang bekas kelinci sakit dibersihkan dengan kreolin/lysol.

7. HAMA DAN PENYAKIT

1. Bisul

Penyebab: terjadinya pengumpulan darah kotor di bawah kulit. Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium.

2. Kudis

Penyebab: Darcoptes scabiei. Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh. Pengendalian: dengan antibiotik salep.

3. Eksim

Penyebab: kotoran yang menempel di kulit. Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl.

4. Penyakit telinga

Penyebab: kutu. Pengendalian: meneteskan minyak nabati.

5. Penyakit kulit kepala

Penyebab: jamur. Gejala: timbul semacam sisik pada kepala. Pengendalian: dengan bubuk belerang.

6. Penyakit mata

Penyebab: bakteri dan debu. Gejala: mata basah dan berair terus. Pengendalian: dengan salep mata.

7. Mastitis

Penyebab: susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar. Gejala: puting mengeras dan panas bila dipegang. Pengendalian: dengan tidak menyapih anak terlalu mendadak.

8. Pilek

Penyebab: virus. Gejala: hidung berair terus. Pengendalian: penyemprotan antiseptik pada hidung.

9. Radang paru-paru

Penyebab: bakteri Pasteurella multocida. Gejala: napas sesak, mata dan telinga kebiruan. Pengendalian: diberi minum Sul-Q-nox.

10. Berak darah

Penyebab: protozoa Eimeira. Gejala: nafsu makan hilang, tubuh kurus, perut membesar dan mencret darah. Pengendalian: diberi minum sulfaquinxalin dosis 12 ml dalam 1 liter air.

11. Hama pada kelinci umumnya merupakan predator dari kelinci seperti anjing. Pada umumnya pencegahan dan pengendalianhama dan penyakit dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan kandang, pemberian pakan yang sesuai dan memenuhi gizi dan penyingkiran sesegera mungkin ternak yang sakit.

8. PANEN

1. Hasil Utama

Hasil utama kelinci adalah daging dan bulu.

2. Hasil Tambahan

Hasil tambahan berupa kotoran untuk pupuk.

3. Penangkapan

Kemudian yang perlu diperhatikan cara memegang kelinci hendaknya yang benar agar kelinci tidak kesakitan.

9. PASCAPANEN

1. Stoving Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum potong untuk mengosongkan usus. Pemberian minum tetap .

2. Pemotongan

Pemotongan dapat dengan 3 cara:

1. Pemukulan pendahuluan, kelinci dipukul dengan benda tumpul pada kepala dan saat koma disembelih.

2. Pematahan tulang leher, dipatahkan dengan tarikan pada tulang leher. Cara ini kurang baik.

3. Pemotongan biasa, sama seperti memotong ternak lain.

4. Pengulitan

Dilaksanakan mulai dari kaki belakang ke arah kepala dengan posisi kelinci digantung.

5. Pengeluaran Jeroan Kulit perut disayat dari pusar ke ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung dan paruparu dikeluarkan. Yang perlu diperhatikan kandung kemih jangan sampai pecah karena dapat mempengaruhi kualitas karkas.

6. Pemotongan Karkas

Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2 potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2 potong bagian dada dan 2 potong bagian belakang. Presentase karkas yang baik 49-52%.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

1. Analisa Usaha Budidaya Perkiraan analisis budidaya kelinci didasarkan pada jumlah ternak per 20 ekor induk:

1. Biaya Produksi

a. Kandang dan perlengkapan Rp. 1.000.000,-

b. Bibit induk 20 ekor @ Rp. 30.000, Rp. 600.000,-

c. Pejantan 3 ekor @ Rp. 20.000,- Rp. 60.000,-

d. Pakan

􀂃Sayur + rumput Rp. 1.000.000,-

􀂃 Konsetrat (pakan tambahan) Rp. 2.000.000,-

e. Obat Rp. 1.000.000,-

f. Tenaga kerja 2 x 12 x Rp. 150.000,- Rp. 3.600.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 9.260.000,-

2. Pendapatan

Kelahiran hidup/induk/tahun = 31 ekor

Penjualan:

a. Bibit: 20 x 15 x Rp. 20.000,- Rp. 6.000.000,-

b. Kelinci potong 20 x 15 x Rp. 50.000,- Rp. 15.000.000,-

c. Feses/kotoran Rp. 60.000,-

d. Bulu Rp. 750.000,-

Jumlah pendapatan Rp. 21.810.000,-

3. Keuntungan Rp. 12.550.000,-

4. Parameter kelayakan usaha : – B/C ratio = 2,36 2. Gambaran Peluang Agribisnis Gerakan peningkatan gizi yang dicanangkan pemerintah terutama yang berasal dari protein hewani sampai saat ini masih belum terpenuhi. Kebutuhan daging kita masih banyak dipenuhi dari impor. Kelinci yang punya keunggulan dalam cepatnya berkembang, mutu daging yang tinggi, pemeliharaan mudah dan rendahnya biaya produksi menjadikan ternak ini sangat potensial untuk dikembangkan. Apalagi didukung dengan permintaan pasar dan harga daging maupun bulu yang cukup tinggi.

11. DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous, 1986, Pemeliharaan Kelinci dan Burung Puyuh, Yasaguna, Jakarta.

2. Kartadisastra. HR, 1995, Beternak Kelinci Unggul, Kanisius, Yogyakarta.

3. Sarwono. B, 1985, Beternak Kelinci Unggul, Penebar Swadaya, Jakarta.

4. Yunus. M dan Minarti. S, 1990, Aneka Ternak, Universitas Brawijaya, Malang.

12. KONTAK HUBUNGAN

1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas